Kolkata - The stories begin

10:30:00 PM



Kuala Lumpur International Airport 2
Malam itu pesawat AirAsia dengan nomor penerbangan AK63 berangkat sesuai jadwal tepat pukul 22.53 dari Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA2) di Malaysia menuju  Netaji Subhash Chandra Bose International Airport di Kolkata India. Secara tidak sengaja saya mendapatkan "Hot Seat". Hot Seat adalah kursi khusus AirAsia yang kursinya disarungi kulit sintesis merah dan biasanya harus membayar ekstra untuk mendapatkannya, keuntungan mendapat kursi hot seat adalah dipanggil masuk pesawat terlebih dahulu, selain itu tidak ada keuntungan lain. 



Saya duduk di 12C bersebelahan dengan bule asal Adelaide, Australia yang juga hendak ke India. Rencananya dia akan di India selama 10 minggu untuk menjajal kereta api disana. Ketika saya tanya pekerjaannya, dia mengaku baru saja resign dari perusahaan Kereta Api di Australia dan ia akan meneliti kereta api di India sebagai referensi ketika dia balik ke Ausie. Dia juga baru saja menyelesaikan perjalanannya di Bali. Kami duduk di sisi kiri pesawat, untungnya bangku tengah kosong, jadi dapat digunakan untuk meletakkan beberapa barang kami.

Perjalanan ke Kolkata membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Bangku AirAsia membuat leher saya sakit. Sandaran kursinya tidak bisa direbahkan sedikitpun, maklum pesawat super murag dengan jarak tempuh yang lumayan jauh. Saya cukup membayar 237 ringgit atau sekitar Rp. 771.000,- 


Penampakan Hot Seat
Tak beberapa lama sayapun terlelap karena memang sudah masuk jam tidur malam. Saya terbangun tepat ketika pengumuman landing terdengar dari pengeras suara. Saya cocokan jam tangan saya dengan waktu di Delhi dan bersiap untuk turun pesawat.

Pesawat akhirnya landing dengan sempurna 11 menit lebih awal dari jadwal yang seharusnya 00.05 dini hari waktu India. Saya beranjak dari kursi dan segera berjalan keluar menuju bandara segera setelah garba rata tersusun. Keluar garba rata saya disambut 2 jalur, Immigration dan Visa on Arrival. Karena saya tidak sempat mengurus Visa di kedutaan di Jakarta, maka saya harus belok kiri untuk mengurus VoA. 

Pagi itu tidak ada satupun petugas yang menjaga kaunter VoA. Sayapun duduk-duduk sambil beristirahat. Sesaat kemudian seorang wanita muda menghampiri saya dan menyuruh untuk menunggu sebentar sambil dia memanggil petugas VoA. Sepuluh menit berikutnya datanglah pria paruh baya menggiring saya ke suatu ruangan yang berisi 4 orang petugas imigrasi. 

Saya diberikan formulir yang harus diisi dan juga dimintai foto ukuran paspor. Setelah menyerahkan formulir saya masih harus ke kaunter imigrasi yang berada disebelah ruangan tersebut untuk mendapatkan stempel. Setelah rampung, saya kembali ke ruang tadi untuk menyelesaikan VoA. Saya mendapat stempel hitam putih bertuliskan VoA dan dituliskan tanggal masuk dan keluar serta ditarik 3600 rupee sebagai biaya administrasi. Setelah selesai, akhirmya saya bisa melenggang indah masuk India.

Taxi kuning di Kolkata
Begitu lolos imigrasi saya langsung mencari tempat untuk beristirahat sambil menunggu bafasi, namun disini tidak ada tempat yang nyaman untuk istirahat, seluruh bangku terbuat dari besi tanpa busa, ditambah ada sekat diantara kursi yang satu dan yang lain.Rencana awal, saya akan tidur di bandara hingga pagi, namun karena tidak ada tempat yang nyaman akhirnya saya putuskan untuk keluar bandara dan mencari penginapan dekat stasiun kereta, lantaran perjalanan saya berikutnya akan ditempuh dengan kereta api.


Sayapun menghampiri kaunter taxi prabayar yang berada di sebelah kanan pintu kedatangan di lantai dasar. Setelah membayar 310 rupee sayapun dibekali secarik kertas untuk diberikan ke sopir taxi yang katanya berwarna kuning.

Ketika saya keluar, mobil kuning yang dibilag taxi adalah sejenis oplet tanpa AC dan tampak ringkih ditambah keranjang barang diatasnya. Tanpa pikir panjang sayapun masuk dan bilang hendak ke Howrah Station. Sopir yang adalah orang Sikh dan tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali itupu hanya menggangguk polos. 

Selama tiga puluh menit di dalam taxi, saya ditemani gigitan nyamuk, bau apek ditambah suara bising mesin. Keadaan diperparah dengan sopir yang memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi sambil sesekali meliak-liuk membelah jalanan Kolkata yang kumuh.


Suasana malam Kolkata
Akhirnya sayapun sampai di stasiun kereta. Saya segera turun dan bergegas mencari hotel terdekat. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Beberapa hotel sudah digembok dengan pagar besi didepannya. Kemudian saya melihat papan nama bercahaya hijau bertuliskan "Howrah Hotel". Saya mendatanginya, namun ternyata pagar sudah terkunci rapat, namun terlihat seorang penjaga sedang tidur dii kursi plastik. Saya memanggilnya dan dia segera terbangun dan membuka pagar. Pagar tidak terbuka seluruhnya, hanya sekitar 100x50 cm yang terbuka, mirip pagar di penjara. Kemudian sayapun masuk dengan sedikit merangkak dan digiring menuju resepsionis.

Setelah berbincang dengan resepsionis, saya kemudian diajak untuk melihat kamar. Kamar terletak di lantai 3. Bentuk dalam gedung persis seperti yang ada di film-film india kuno yang mempunyai banyak balkon, bedanya yang satu ini sangat tua, kotor dan hampir tak terurus. Di lorong gedung saya melihat beberapa orang sedang tidur dilantai, jadi saya harus sedikit berjinjit untuk melewati lorong. Calon kamar saya berada di ujung lorong. Petugas yang menemani saya segera membuka kunci dan membuka pintu kamar. 


Suasana Howrah Station di Kolkata

Disana tampak 2 buah dipan besar berisi masing-masing 2 kasur yang dijadikan 1 serta kamar mandi lengkap dengan pancuran disisi kiri ruangan. Sayapun setuju untuk mengambil kamar itudan kembali ke resepsionis untuk menyelesaikan administrasi. Saya setuju untuk membayar 1300 rupee untuk semalam. Kemudian saya serahkan paspor dan mengisi formulir. Saat saya menyerahkan paspor dan menunjukkan VoA saya, pak tua resepsionisnyapun mengernyitkan dahi seolah melihat sesuatu yang tak lazim. Beliau mengembalikan paspor saya sembari bilang bahwa visa saya tidak valid. Sontak sayapun kaget dan menjelaskan bahwa ini adalah Visa on arrival bla-bla-bla... Namun hasilnya nihil, tetap saja mereka tidak mau menerima tamu dengan VoA. Akhirnya sayapun menyerah dan mencari hotel yang lain.
Tempat duduk untuk menunggu kereta
Tidak banyak hotel yang buka saat itu. Hotel yang bukapun mengaku telah kehabisan kamar. Sudah empat hotel saya datangi, namun jawabannya tetap sama "Sorry Sir, No Room". Waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi dan saya masih diluar untuk mencari hotel. Akhirnya saya putuskan untuk kembali ke stasiun kereta dan beristirahat disana. 

Tiba di stasiun penderitaan saya tidak sampai disitu. Saya harus berjuang untuk mendapatkan tempat duduk di ruang tunggu. Saya harus berebut tempat duduk dengan banyak orang. Tidak hanya itu, sayapun harus jalan berjinjit-jinjit karena lantaipun penuh dengan orang yang sedang tidur. Pukul 4 pagi akhirnya saya mendapat tempat duduk dan beristirahat. Tak lama saya sudah terlelap karena lelah. 

You Might Also Like

5 komentar

  1. Dowone ceritone....
    digae beberapa sekuel ngono loh... ben enak diwocone..

    thumbs up (y)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes pak, ini sedang proses menjadi sekuel, lek selama di India dijadikan sekuel, mungkin ada puluhan. tapi gpp, baca terus blog saya yah...

      Delete
  2. Seru... btw itu kenapa yah pas di kolkatta ko hotel2 pada nolak gitu ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. pas di Agra saya penasaran mbak, dan tanya penjaga hostel. katanya emang tiap region, ato provinsi ada masing2 rule, dan karena di Kolkata masih amat terbelakang. mereka gak tau VoA untuk org indonesia, dan kalo yang nolak2 itu katanya mungkin karena ada suatu insiden tertentu sehingga beberapa hotel menolak, lagian saya berada di kawasan yang non tourist friendly, jadi mungkin mereka takut saya teroris anarkis kali ya... entahlah

      Delete
  3. setelah membaca blog ini, sangat terlihat style tulisan sampean bertipe deskripsi, menurut saya ini sangat bagus, karena gampang dicerna dan menggiring pembaca seolah2 mengalami kejadian apa yang dialami si penulis, sip
    #fakh

    ReplyDelete