Rinjani 4 - Summit 3726 mdpl

5:00:00 AM


Sinar Mentari di Rinjani
Malam ini saya harus tidur lebih cepat, pasalnya nanti pukul sebelas malam saya harus menghadapi "Summit Attack". Summit attack adalah moment paling utama bagi para pendaki. Pukul 9 malam saya sudah menggelar Sleeping back dan berbaring menatap atap tenda. Kami bertiga setenda, Saya, Adit, dan Pian malam itu tak bisa memejamkan mata. Pian yang tadi siang sempat hampir pingsan ketika bertempur di tujuh bukit penyesalan, seakan pesimis untuk Summit. Sementara saya dan Adit yang sudah beristirahat cukup lama pun ketar-ketir menghadapi Summit Attack.


Tiba-tiba suara dengkuran keras memecah keheningan kami. Tirto yang setenda dengan Deny berada persis disebelah kami. Saat dengkuran yang mirip sakarotul maut itu berkumandang kami langsung tertewa sekencang-kencangnya. Setelah sejenak tertawa kami pun hening kembali dan berusaha memajamkan mata. Namun dari luar terdengar suara riuh Tony, Bayu, Ivana, Shelvi dan Ricky yang sedang bercanda ditemani cahaya lampu senter. Kami bertiga tak menghiraukannya dan kembali menutup resleting sleeping back dan menelungkupkan kedua tangan kami agar tidak dingin. Akhirnya satu persatu dari kami pun sudah pergi ke alam mimpi.

Mentari Summit
Saya terbangun ketika suara Tony memekakkan telinga saya sambil tenda yang bergoyang karena goncangan tangan Tony. Waktu menunjukkan pukul 10.30. Saya bergegas mengemasi barang saya yang akan saya bawa menuju puncak. Setelah itu diikuti oleh Adit. Pian yang menggigil kedinginan nampaknya telah menyerah untuk menuju puncak, Melihat Pian yang menggigil, sejurus kemudian saya rebahkan sleeping bag saya untuk melapisi badannya agar menambah suhu tubuhnya. Saya beranjak pelan-pelan keluar tenda, takut Pian terbangun, kemudian disusul Adit dibelakang saya.

Kami berdelapan, Saya, Adit, Tony, Bayu, Ricky, Tirto, Ivana, dan Shelvi berkumpul untuk briefing terakhir sebelum Summit. Kita sepakat untuk pergi bersama dengan kompilasi seperti ini sampai puncak. Selesai briefing kita melakukan pemanasan. Setelah pemanasan selesai kita memanjatkan do'a. Dan saya terperanjat ketika tiba-tiba Pian keluar dengan tas kecil dan Jaket tebalnya langsung bergabung dari kami. Rupanya Pian tidak menyerah untuk ke Puncak. Akhirnya kami bersembilan berkumpul dan berdoa agar kita sampai puncak dengan selamat.


Setelah meninggalkan Widi, Deny, dan Riani di dalam tenda, kamipun segera menuju Summit. Malam itu hawa teramat dingin, untungnya saya memakai pakaian lima lapis. Kami bersembilan berjalan berbaris mengikuti deretan pendaki yang lain. Saatitu pendaki sangat banyak, tak jarang kami harus mengantri dan berdesakan saat berjalan. Sejam berjalan kami pun memtuskan untuk berpisah, karena sangat sulit mempertahankan barisan tetap bersembilan. Kami membagi tim menjadi beberapa orang, saya dan Pian memimpin didepan.

Saya dan Pian terus berjalan dengan terseok-seok, karena memang medan yang kami hadapi adalah pasir kering bercampur kerikil dan batu-batu besar. Tak jarang kami terperosok, merangkak bahkan berguling di tengah lautan pasir dan batu. Ada pula jalan setapak yang curam, dimana kanan dan kiri kami adalah jurang terjal. Kami melihat beberapa pendaki yang mulai turun. Bukan karena mereka telah menuju Summit, namun mereka merasa tidak kuat melanjutkan perjalanan ini. Saya dan Pian terus berjalan sambil sesekali istirahat untuk minum dan menghirup tabung oksigen yang kami bawa dari Pelawangan Sembalun.

At the top of Rinjani
Tepat pukul 4 pagi, udara dingin mulai bertambah dingin, ditambah debu yang berterbangan kamipun mencapai titik optimal pencapaian kami. Pian sudah mulai merasakan pusing akibat debu, saya pun mulai kelalahan dan kram di kaki. Kamipun duduk sejenak dibalik batu. Tiba-tiba sesosok bayangan tiba dan menupuk bahu saya. Ketika saya menoleh ternyata itu Adit. Teman-teman yang lain masih dibawah, kata Adit. 

Setelah istirahat cukup kamipun melanjutkan perjalanan, Adit dan Pian memimpin di depan sementara saya mengikuti mereka di depan. Beberapa kali Pian ambruk dan mengeluh sakit kepala, namun dia tidak patah semangat dan terus melanjutkan pendakian. Akhirnya saya pun mengambil alih posisi di depan, selang tiga puluh menit, sayapun tidak melihat tanda-tanda Pian dan Adit. Didepan saya masih banyak tanjakan pasir bercampur batu yang siap untuk saya daki. Lalu sayapun memutuskan untuk berpisah dengan yang lain, dengan harapan bisa bertemu di puncak.


Summit 3726 mdpl
Waktu menunjukkan pukul 6 pagi, suara adzan berkumandang dari puncak Rinjani. Suara itu memberikan semangat ekstra untuk saya. Perlahan terlihat garis merah diantara gumpalan awan dan cakrawala. Merupakan keelokan yang amat nyata. Semangat saya kembali berkobar. Sayapun menyusuri tanjakan pasir dengan langkah semakin cepat. 
Tepat pukul 7 pagi saya sampai di Puncak Rinjani. Bertengger diatas 3726 mdpl rasanya memang tiada tara. Perjuangan selama 3 hari mendaki terbayar sudah. Rasa haru bercampur bangga menyeringai di wajah saya. Saya mengistirahatkan kaki sambil menikmati pemandangan di puncak tertinggi ketiga Indonesia ini. Tak lama kemudian Adit muncul dengan wajah yang tak beraturan. Dia tak kuat menahan haru dan akhirnya air mata meleleh seiring panjatan doa terucap dari bibirnya. Tanda syukur kepadaNya yang telah memberikan kesempatan untuk sampai di puncak.

Kamipun menyempatkan foto dan berpose ditengah tiupan hawa dingin Rinjani. Tangan saya pun seakan beku, ketika melepas sarung tangan untuk mengoperasikan layar sentuh ponsel. Setelah puas berfoto dan menggagahi kieindahan Rinjani, kamipun memutuskan untuk turun. Saat itu masih banyak pendaki yang berusaha menggapai puncak. Sejam setelah perjalanan turun kami bertemu dengan rombongan Ivana, Shelvi, Tony, Bayu, dan Ricky tanpa kehadiran Tirto. Kami tak bertanya kemana Tirto dan segera turun.

Negeri diatas awan
Perjalanan Turun sangat menguras tenaga, mengingat kami belum makan dan juga tidak beristirahat dengan cukup. Sesekali saya berhenti sambil berfoto. Dan karena saya teramat mengantuk, sayapun tidur diantara lautan pasir dan sengatan sinar matahari.

Pukul 11 siang saya baru sampai di perkemahan kami. Ketika sampai, saya melihat, Tirto, Adit, dan Pian sedang tidur, sedang Deny, Riani dan Widhi, sudah bersantai. Saya pun meminta minum dan segera melahap mie instan yang disiapkan mereka sejak pagi. Setelah itu, saya rebahkan badan saya untuk bersiap tidur. Sejam saya tidur, saya sudah merasa fresh lagi. Tapi, teman-teman yang lain belum datang. 

Kemudian kamipun menunggu sambil bertukar cerita tentang perjalanan Summit. Pian ternyata sampai Summit setelah Adit, namun dia tidak sempat menghampiri kami, karena memang sudah tidak kuat berteriak dan berjalan lagi. Tirto akhirnya menyerah dan ditinggalkan oleh rombongan yang lain di tengah perjalanan ke Puncak, diapun kembali ke Base Camp pukul 9 pagi. 

Tepat pukul 4 sore, rombongan yang lain mulai berdatangan. Dengan wajah tergopoh-gopoh mereka langsung minum danmelahap hidangan yang disediakan teman-teman yang lain. Rencana awal, kita akan pergi dari Pelawangan menuju Segara Anak, pada hari itu juga, Namun karena keadaan fisik teman yang lain tidak memungkinkan, akhirnya kita memutuskan untuk bermalam sehari lagi di Segara Anak.

You Might Also Like

2 komentar

  1. tahniah ya bejaya menawan puncaknya rinjani...

    ReplyDelete