Bengong di Patong

6:00:00 PM

Penampakan pesawat NokAir
Siang itu matahari bersinar terik, waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Saya harus cepat-cepat berkemas menuju Bandara. Saya langsung turun ke lobby hotel melati yang bertarif 400 baht semalam. Saya memilih hotel ini, karena berada di dekat gang yang terkenal seantero negeri apalagi kalau bukan Khaosan Road-Bangkok. Lokasi hotel hanya 100 meter dari gang fenomenal itu.

Lima menit menunggu di hotel datanglah seseorang yang berteriak "Airport", rupanya dia adalah dispatcher yang akan membawa saya ke Bandara. Saya pun digeret menuju sebuah minivan.
Ketika pintu dibuka, sudah ada 4 orang Bule berkostum minimalis duduk berjajar di minivan berkapasitas 10 orang tersebut. Hampir di tiap gang kita berhenti untuk menyumpalkan manusia kedalam kendaraan ini. Dan ketika van sudah penuh, kitapun langsung melaju cepat ke DonMueang. Bangkok mempunyai 2 bandara Internasional, Suvarnabhumi dan Dong Mueang. Suvarnabhumi untuk penerbangan Internasional bertarif menegah ke atas, sementara Don Mueang untuk penerbangan domestik dan Low Cost flight (AirAsia, TigerAir, NokAir).

Sekitar satu jam perjalanan akhirnya kamipun sampai di Dong Mueang. Di Bandara ini sudah mirip terminal bus. Dimana orang-orang berlarian sana-sini dan sibuk melihat papan atau sekedar kongkow-kongkow di kafe bandara. Saya menggunakan NokAir untuk terbang dari Bangkok ke Phuket. Ketika melihat pesawat Nok Air, saya tersenyum simpul lantaran tampilan pesawat bagaikan burung warna-warni.

Menunggu beberapa saat akhirnya petugas bandarapun memanggil kode penerbangan saya dan segera saya masuk pesawat. Lantaran saya cukup lelah kemarin jalan-jalan di Bangkok, saya pun terlelap mulai dari awal penerbangan hingga sampai ke Phuket.

Sesampainya di Phuket saya langsung disambut berbagai brosur wisata dan berbagai bentuk Peta Wisata di Phuket. Langsung saya kantongi semua brosur, tanpa melihat dan langsung pergi menghindar dari mbak-mbak SPG di Bandara. Begitu keluar bandara saya bingung harus kemana, naik apa, dan harus bagaimana. Berhenti sejenak, dan pergi ke toilet akhirnya saya dapat ilham ketika sedang buang hajat. Saya langsung ke warung yang menjual SIM Card terdekat dan segera pergi dan memutuskan untuk ke Patong, yang menurut orang-orang adalah "Kuta"nya Phuket.
Mural di hostel murah Patong

Membayar 180 baht, saya langsung masuk van bersama 5 orang bule sungguhan dan bule karbitan, alias bule baru kemarin. Tiba-tiba mobil berhenti disuatu tempat dan saya disuruh turun dan ditanya-tanyai. Ditanyai paspor, nama hotel yang akan ditinggali dan budget traveling. Saya yang tidak tau akan tinggal dimana, sendirian, dengan paspor hijau berlambang Garudapun tidak luput dari pertanyaan. Hampir seluruh pertanyaan saya jawab dengan 'tidak tahu'. Belakangan saya ketahui bahwa ini adalah sebuah agen travel yang menawarkan hotel, Paket Tour dengan harga mahal. Begitu mereka lihat dandanan saya yang hanya memakai tanktop longgar dengan luaran kemeja kumal dan rambut acakadut dan sandal gunung serta celana yang lapuk, mereka langsung menyerah begitu saya bilang, 'tidak tahu'. Heheheh...

Setelah berusaha dicuci otak di agen travel tadi kami langsung diantar ke tujuan. Saya yang tidak punya alamat hotelpun pasrah akan diturunkan dimana. Akhirnya saya pun diturunkan di kerumunan pria bertelanjang dada dan wanita berbikini. Langsung saya sadar, saya diturunkan di Patong Beach. Sayapun tak langsung menikmati indahnya pantai, namun segera mencari Ho[s]tel murah terdekat untuk sekedar meluruskan badan dan mandi. 

Sejam saya berjalan ngalor-ngidul, barat-timur akhirnya saya menemukan sebuah hostel yang berlokasi di lantai 3 sebuah ruko yang sedang direnovasi. Saya harus melewati gundukan pasir, tumpukan semen, dan melewati gang senggol. Sampai di lantai tiga saya pun kaget dengan suasana homey ditambah kamar-kamar bersusun rapi dan bersih dan kamar mandi yang kinclong. Dan lebih kaget lagi setelah tahu tarif permalamnya hanya 200 Baht. Wow murah banget...


Meletakkan ransel 45L saya, mandi, langsung saya berputar-putar Patong. Ketika saya turun matahari sudah hampir tidak bersinar lagi, dan saya kaget dibawah hostel gemerlap sekali pemandangan. Mulai dari Bule nangkring sambil menggenggam botol, gerobak penuh dengan Bir merk Chang. Sampai (mungkin) wanita menari-nari di meja bar dengan pakaian kekurangan bahan. Yang membuat saya kaget adalah, tadi waktu saya masuk Hostel pemandangan tidak se 'sinting' ini, namun sekarang sudah gila banget.

Sunset di Patong Beach
Saya tak menghiraukan itu semua dan segera menuju Patong Beach yang terkenal itu untuk mengejar Sunset. Ketika saya tiba, untungnya matahari masih di cakrawala. Jadi saya masih bisa mengabadikan Sunset pertama saya di Phuket.

Karena asyik mengamati Matahari saya jadi tidak menghiraukan sekitar, namun begitu matahari menyingsing. Saya mengamati sekitar dan saya seperti melihat segerombolan Mamalia berjemur. "Paus", "Dugong", "Lumba-lumba" hingga "Putri Duyung" ada semua. Mereka berjemur dengan sekali lagi busana "minimalis". Sedikit cuci mata, akhirnya saya berkeliling mencari paket tour ke pulau-pulau sekitar Phuket.

Sejam saya berputar-putar di Patong, akhirnya saya menemukan kios kecil yang menawarkan paket dengan harga miring. Usut punya usut, dia sangat terkenal se-antero Kaskus. Heheheh... Saya memesan beberapa paket tour untuk 3 hari kedepan. Saya memilih Phi-Phi, Krabi dan Koh Pha Nga sebagai destinasi saya. Setelah membayar dan mendapatkan Resi saya segera pergi dan memulai jalan-jalan kembali.

Cacing di Perut saya segera Konser, saya pun tak kuasa untuk menahannya. Berhentilah saya di sebuah bazaar makanan di pinggiran Patong yang menjajakan menu tradisional Thailand. Saya yang nge-fans mampus dengan "Tom Yum Kung" akhirnya memesan satu mangkuk penuh dengan sepiring nasi Putih. Rasanya lumayan dan harganya juga cukup murah.  

Amunisi telah diisi sekarang waktunya jalan-jalan kembali, menyusuri sebuah toko souvenir saya menemukan sebuah hotel yang agak janggal, terletak dipojokan sebuah komplek pasar, dan di billboardnya terpamapang dua orang lelaki tidur bersama. Yang mencengangkan adalah tulisan di bawahnya. "Gay Leisure House" saya menoleh tepat disebelah plakat itu, terlihat gerombolan pria Maco a.k.a mantan Cowok bercengkrama dengan Luwes, sambil mengibaskan tangan bergaya kungfu namun sangat lembut. Saya langsung kabur, ketika seorang dari mereka melihat saya dan memanggil-manggil saya. Hi...takuut...
Sisi Malam Patong

Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Hostel dan beristirahat karena waktu menunjukkan 11.30 malam. Karena hostel saya berada di keramaian, jadi saya bisa melihat para Wanita ber pool dance, twerking maupun sedang melayani pelanggan mereka. Sayapun bergegas lari ketika beberapa orang menawarkan massage plus-plus dengan iming-iming murah dan Cantik. Please deh pasti yang cantik itu jadi-jadian. Memangnya ada original harga KW. Hahahha....

(Phuket-Thailand, 13 Maret 2014)


You Might Also Like

0 komentar