Menepi di Koh Phi Phi

8:00:00 AM

Panorama menuju Koh Phi-Phi
Setelah semalam memesan paket tour ke Koh Phi Phi, saya bangun pagi dan segera bersiap didepan lobi hotel. Tepat 5 menit setelah saya menunggu datanglah seseorang yang langsung menggiring saya ke sebuah Minivan. Sejam perjalanan tibalah saya di Port Marina, pelabuhan tempat speedboat akan mengantar saya berkeliling Phi-phi.

Di meeting point kami disuguhi setandan buah pisang dan seperangkat bahan-bahan untuk membuat kopi instan. Karena saya belum sarapan tadi pagi. Sayapun segera membredel 2 buah pisang dari tandannya, dan langsung melahapnya. Tak lupa saya mengantongi 2 pisang untuk dimakan nanti. Hahaha... Dasar traveler kere.

Amy yang adalah guide kami menerangkan tempat tujuan tour kami. Saya yang kurang menangkap bahasa (mirip) inggrisnya agak sedikit bingung dengan penjelasannya. Yang jelas. Kita akan ke Phi-Phi, Khai island, Maya Bay, Monkey Beach dan satu pulau yang saya lupa namanya.

Amy pun menjelaskan rule-rulenya termasuk memberikan pula sebuah gelang berwarna merah muda stabilo kepada kami sebagai tanda agar tidak tercampur dengan kelompok wisatawan lainnya. Setengah jam berikutnya kami langsung digiring menuju sebuah speedboat sedang berkapasitas 20an orang.

Sampai di speedboat saya berkenalan dengan seorang solo traveler seperti saya. Dari perbincangan kami, saya tahu namanya adalah Ramesh. Dia adalah orang India yang baru saja pindah warga negara Singapura. Bekerja di Bank of America di Singapura itulah yang menuntutnya berganti paspor. Di sepanjang perjalanan dia terus saja tidur. Belakangan saya baru sadar bahwa dia mengalami seasick alias mabuk laut. Amy pun menawarkan "Antimo" Thailand, namun Ramesh menolak.


Viking Cave, Phi Phi Island
Tujuan pertama kita adalah Phi-phi Viking Cave, sebuah goa ditengah laut yang sangat memukau di Phi-Phi. disana kita hanya berputar-putar karena memang tidak ada pantai ataupun dermaga untuk merapat. Namun saya sudah puas dengan hanya menikmati dari speedboat pemandangan yang mencengangkan ini. Tebing tinggi, rerumputan hijau bercampur dengan birunya laut sungguh membuat dada saya berdegup takjub.

Setelah puas mengabadikan gambar kita selanjutnya dibawa ke sebuah pantai kecil yang ditinggali puluhan monyet liar. Mereka menyebutnya Monkey Beach. Kami kurang beruntung lantaran hanya beberapa monyet yang keluar, itupun hanya hitungan jari. Akhirnya kita pindah haluan menuju ke Maya Bay.

Maya Bay sangat terkenal karena merupakan tempat syuting film 'The Beach'. Yang dibintangi oleh Leonardo di Caprio di awal tahun 2000. "Maya Bay is set location for my boyfriend film The Beach", tutur Amy. Sontak suara gemuruh menggelegar di dalam kapal, menyoraki Amy yang menganggap dirinya adalah pacar Leo. Merapat di Maya Bay. Kami langsung berlomba menuju pasir putih bak bedak bayi, dan segera melenggang mengabadikan gambar di pulau cantik ini.


Maya Bay, Phi-Phi
Maya Bay adalah sebuah pulau kecil yang sangat indah dengan pasir yang putih dan airlaut turquoise. Tentu saja ini sangat memukau. Saat kita merapat di daratan kita harus berdesakan dengan belasan speedboat disisi pantai. Ramesh yang tadi murung dan tampak pucat kini mulai berangsur ceria dan tidak berhenti memotret sekitar dengan iPhone 5 yang digenggamnya. Tidak hanya patai dan pasir yang memukau, kita juga bisa menikmati rindangnya pepohonan disisi dalam pulau. Dan jika berani, kita bisa memanjat tebing-tebing yang tidak terlalu tinggi dan meloncat ke dalam air laut.

Sejam kemudian, kita beranjak menuju Khai Island. sebuah pulau elok, yang mempunyai alam bawah laut yang cukup bagus. Kami snorkeling di pulau ini. Setelah memakai perlengkapan snorkeling saya segera nyebur dan ketika melihat kebawah, tidak ada yang spesial, hanya sekelompok ikan belang kuning hitam yang agresif dan beberapa karang mati yang saya dapati. Karena saya sebelumnya telah snorkeling di Derawan (baca pos saya sebelumnya), jadi di Khai Island ini terasa seperti hambar. 


Koh Phi Phi
Selesai snorkeling di Khai Island rasa lapar mulai bergemuruh seiring dengan gemuruh mesin kapal menuju Phi-Phi Island untuk mengantar kita makan siang. Ramesh yang kembali pucat, kini tidur kembali di pojokan. Sayapun pindah ke deck depan untuk melihat sekeliling sambil kapal membelah lautan. Setengah jam kemudian, kapal sudah bersandar, kami pun berbondong-bondong menuju sebuah kantin besar di tengah tepi pulau ini. Hampir semua pelayan wanita berjilbab, dan kata Amy, disini semua makanan Halal, karena mayoritas penduduk beragama Islam. Saya yang sedari pagi hanya memakan beberapa sisir pisang, sekarang bisa balas dendam dengan mengambil menu dengan porsi Jumbo. Ramesh yang dari tadi menahan rasa mual dan pusing, akhirnya makan dengan lahap dan banyak. Sejam kemudian kita sudah harus kembali ke kapal dan melanjutkan perjalanan ke Pha-Nga untuk snorkeling lagi.

Di Phanga saya pun segera membuka T-Shirt dan memakai peralatan dan langsung lompat dari boat untuk snorkeling. Dan saya pun masih tidak puas dengan pemandangan bawah laut, akhirnya saya copot peralatan snorkeling dan hanya mengambang santai di Pantai ini.


Setelah puas snorkeling di tengah laut, kita diajak ke tepi pantai untuk sekedar berjemur ataupun berenang dan sebagian juga snorkeling lagi. Namun saya dan Ramesh memutuskan untuk mengitari pulau ini dan memanjat beberapa batu. Puas memanjat, saya memutuskan untuk membilas tubuh di pantai. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat seorang pria Cina menggendong perempuan yang kakinya kesakitan. Rupanya perempuan itu terkena bulu babi di sekujur jari kakinya. Kakinya yang putih berubah memerah dan terdapat bercak hitam sisa-sisa duri yang masih merekat di kakinya. Bulu roma saya berdiri, bahkan ketika saya menulis ini pun alis saya mengernyit membayangkan kaki perempuan itu. Saya dan Ramesh saling menoleh dan tanpa kata-katapun kita menjauh ke pantai dan mengurungkan niat untuk membilas tubuh. Hi... merinding.
Gelayutan diatas batu di Phang-Nga

Beberapa saat kemudian Amy dan beberapa kru kapal memanggil kami untuk segera pulang. Langkah saya serasa berat lantaran tidak mau meninggalkan keindahan pantai ini. Namun apa boleh buat, kita harus segera kembali ke Phuket. Perjalanan ditempuh 45 menit dan keadaan kapalpun hening karena kebanyakan peserta terlelap, termasuk saya. Begitu kapal menepi semua orang saling merapikan barang-barangnya dan siap keluar kapal. Saya dan Ramesh saling bertukar e-mail dan berjanji untuk bertemu, jika Ramesh ke Indonesia, ataupun jika saya ke Singapura. Aku tagih janjimu ya...

You Might Also Like

0 komentar