Semalam di Malaka

4:51:00 AM

Christ Church Melaka
Sedari pagi saya sudah menunggu jemputan ke Bandara. Saya berencana terbang dari Phuket ke Kuala Lumpur. 

Saya telah menempuh pejalanan sekitar satu jam akhirnya saya sampai di bandara, sebenarnya saya bisa naik van seharga 160baht namun karena flight saya pukul 8, mau tidak mau sayaharus booking taxi dengan harga 600baht. 


Sampai dibandara saya membeli camilan sebagai pengganjal perut. Sejam kemudian saya dipersilahkan naik pesawat. Dua setengah jam perjalanan akhirnya saya sampai di LCCT Kuala Lumpur. 

Mengantri imigrasi dan segera keluar ke parkir bus saya pun sadar bahwa sedari pagi saya belum makan. Dengan modal 10 ringgit saya makan nasi dengan sayur nangka dan lauk ayam goreng. Selesai makan saya beranjak ke parkir bus lagi.  "Melaka!!!" Terdengar suara itu tanda bis ke Melaka akan berangkat. Saya segera masuk bus, namun saya tidak mengetahui bahwa saya harus membeli karcis di dalam bandara. 
Kantor Pemerintah di Melaka

Akhirnya saya harus menunggu sejam lagi untuk bis berikutnya ke Malaka. Harga tiketnya 52 ringgit.

Waktu menunjukkan pukul 1 siang. Saya segera ke terminal untuk segera naik bis Transnasional jurusan Melaka. Setelah masuk berjajar kursi dobel untuk 10 bangku didepan dan sisanya adalah bangku single yang setiap deretnya punya 3 bangku. Saya mendapat tempat di bangku single. Bangkunya nyaman, lega, dan sandaran berfungsi dengan baik. Air Conditionerpun berfungsi baik. 

Lima menit bis berangkat, hujan deras langsung turun. Karena kelelahan sayapun langsung terlelap hingga sampailah di Melaka.

Casa Del Rio
Perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam. Saya berhenti di Melaka Sentral. Saya sebenarnya tak punya tempat tujuan, alamat hotel ataupun tempat wisata. Teman Malaysia saya di kantor (Atong) adalah orang asli Melaka. Dia menyarankan untuk pergi kesana. Selain itu saya telah diracuni oleh buku-buku traveling yang menulis bahwa Melaka adalah tempat yang indah.

Ketika saya datang, hujan masih belum berhenti. Kata Atong saya harus pergi ke Plaza Mahkota, sebuah pusat kota Melaka. Saya memutar otak dan bertanya-tanya. Akhirnya saya putuskan untuk naik bis. Selain murah, tujuan backpacking yang sebenarnya adalah merasakan apa yang dirasakan penduduk lokal. Dengan hanya 1 ringgit saya naik sebuah bis yang akan mengantar ke Plaza Mahkota. Benar saja, setengah jam di bis saya akhirnya diturunkan diaebuah jalan bersama beberapa orang yang berpakaian turis. Saya menyebut turis karena pakaian mereka licin bersih dan rapi tak seperti saya, compang-camping dan penuh lipatan disana-sini.

Kapal Diana
Saya berjalan mengikuti arus para turis tadi dan saya melihat beberapa bangunan berwarna merah semen. Merah semen adalah warna merah yang terbentuk dari semen yang biasa digunakan sebagai lapisan ubin.

Saya tak mampir dan segera beranjak. Tujuan utama saya adalah menaruh tas punggung yang semakin berat ini. Dan juga ingin mengobati lecet-lecet dikaki saya, karena memakai sepatu Homyped baru yang keras dan tidak menyerap keringat sama sekali. 

Saya berjalan. Dan saya belok disalah satu gang yang bertuliskan Backpacker Hostel. Saya mampir, namun saya tidak ambil, karena tidak tersedia dorm room dan harganya sedikit mahal (IDR150K). Saya berjalan lagi dan menemukan LeVillage. Sebuah hostel yang mirip sebuah kandang ayam, saya menyebut itu karena lantainya masih plester yang dilapisi karpet dan dipan kayu dengan kasur keras. Saya ambil dorm room dengan tarif MYR15 semalam. Saya berencana tinggal satu malam disini. 

Sungai Melaka di malam hari
Setelah meletakkan semua barang bawaan, saya segera pergi untuk melihat kota, namun hujan tak kunjung henti. Jangan sebut saya Fery kalau takut hujan. Dengan basah-basahan saya pergi dengan membawa kamera saya dan pergi ke Beberapa lokasi menawan di Melaka. 

Saya mulai dengan berjalan ke sebuah Gereja Berwarna merah yang merupakan landmark Melaka. Gereja yang dibangun tahun 1763 ini masih megah dengan warna merah bata yang mencolok. Sayapun beranjak ke sebuah benteng tua yang bernama A'Famosa. Sedikit berjalan saya melihat Kapal Diana, kapal Inggris yang pernah karam di Melaka. Saya terus saja berjalan menyusuri sungai Melaka. Saya menemukan sebuah hotel yang bernama Casa del Rio yang megah dan futuristik.

Tak lama matahari sudah terbenam, perut saya keroncongan, dan akhirnya saya memesan nasi lemak dan segelas milo hangat di sebuah toko di dekat kawasan China. Malam hari di Melaka sangat damai dan sepi. persis suasana malam di kampung saya. Karena sudah mulai sepi, saya pun memutuskan untuk kembali ke Hostel tempat saya menginap.

You Might Also Like

0 komentar